Dalam enam tahun terakhir, Indonesia mencatat lonjakan signifikan dalam jumlah investor di pasar modal. Dari 2,4 juta investor pada 2019, angka ini melonjak menjadi 14,8 juta pada akhir 2024. Pertumbuhan enam kali lipat ini menjadi pencapaian terbesar dalam 15 tahun terakhir, mencerminkan meningkatnya minat masyarakat untuk berinvestasi di Bursa Efek Indonesia (BEI).
Namun, di balik pertumbuhan jumlah investor tersebut, Indonesia masih tertinggal dalam jumlah perusahaan terbuka dibandingkan negara-negara Asia Tenggara lainnya. Berdasarkan data Google tahun 2021, Indonesia dengan populasi sekitar 300 juta jiwa hanya memiliki 750 perusahaan terbuka. Sebagai perbandingan, Vietnam dengan 65 juta penduduk memiliki 800 perusahaan terbuka, Thailand dengan 95 juta penduduk memiliki 795 perusahaan, dan Malaysia dengan 30 juta penduduk memiliki 900 perusahaan terbuka.
Padahal, peningkatan jumlah perusahaan yang melantai di BEI dapat memberikan berbagai manfaat positif bagi perekonomian Indonesia. Di antaranya adalah peningkatan permodalan, efisiensi dan likuiditas yang lebih besar, tata kelola perusahaan (corporate governance) yang lebih baik, serta kontribusi signifikan terhadap pertumbuhan sektor keuangan dan ekonomi nasional.
Merujuk data BEI per 2024, baru 938 perusahaan yang tercatat di bursa saham, masih di bawah target 1.000 perusahaan. Padahal, pemerintah telah mengeluarkan regulasi yang mempermudah perusahaan skala kecil dan menengah untuk melantai di bursa saham. Kebijakan ini diharapkan dapat membantu perusahaan memperoleh modal dari masyarakat untuk mempercepat pertumbuhan bisnis mereka.
Sebagai bentuk dukungan konkret, BEI meluncurkan Papan Akselerasi pada 2019. Inisiatif ini membuka akses bagi perusahaan tahap awal untuk mendapatkan modal tanpa harus bergantung pada pendanaan dari investor privat seperti venture capital.
Benefit Capital hadir sebagai perusahaan financial advisor dan investasi berbasis di Indonesia yang berfokus pada pembinaan dan investasi Pra-IPO. Dengan kepemimpinan Tyas Utomo Soekarsono, seorang pengusaha sukses yang telah menjual perusahaan teknologi animasi dan oil & gas miliknya pada tahun 2000, Benefit Capital berkomitmen untuk membantu lebih banyak perusahaan tahap awal dalam proses menuju go public. Perusahaan ini menyediakan pendampingan dan investasi strategis agar perusahaan skala kecil dan menengah semakin siap melantai di bursa saham.
Dengan dukungan dari berbagai pihak, termasuk pemerintah, BEI, dan perusahaan seperti Benefit Capital, diharapkan semakin banyak perusahaan Indonesia yang berani melangkah ke pasar modal. Langkah ini tidak hanya memperkuat struktur permodalan perusahaan tetapi juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi nasional.
